Kamis, 26 September 2013

Agar Ibadah Kita Berbuah Berkah

TENTU kita berharap setiap ibadah yang kita kerjakan berbuah pahala seperti yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Agar ibadah kita kita tidak sia-sia, ada sejumlah tips yang dapat kita upayakan.
Khawatir Terhadap Tertolaknya Amal Ibadah
Dalam beribadah apapun, kita dituntut untuk senantiasa memiliki rasa khauf (takut dan khawatir) bilamana amal ibadah kita tertolak. Kondisi seperti inilah yang akan memberikan motivasi bagi kita untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas ibadah agar diterima oleh Allah Ta’ala. Rasa khauf akan memaksa kita untuk senantiasa berhati-hati dalam menjaga kebenaran dan keikhlasan setiap amal ibadah yang tengah kita lakukan.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu’minuun [23] : 60).
Berkaitan dengan ayat ini, Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, “Apakah yang dimaksud adalah orang yang berzina, minum khamr, mencuri, kemudian muncul dalam hatinya rasa takut kepada Allah?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Yang dimaksud adalah orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah, kemudian dalam hatinya muncul rasa takut kepada Allah.” (Riwayat Ibnu Majah).
Berharap-harap dan Memperbanyak Doa
Rasa takut yang tidak diiringin rasa harap, maka akan melahirkan keputusasaan. Artinya, saat kita menjalankan ibadah dan amal shalat, selain harus memunculkan dalam diri rasa kekhawatiran manakala amal ibadah tersebut tidak diterima oleh Allah, maka harus pula dihadirkan rasa harap semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala. Sebab, hal inilah yang mampu menghasilkan sikap tawadhu dan kekhusyukan saat beribadah kepada AllahTa’ala.
Profil Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il barangkali bisa kita jadikan suri tauladan dalam masalah ini. Setelah selesai membangun Ka’bah, keduanya menyempatkan diri untuk memohon dan berharap kepada Allah untuk menerima amal mereka berdua. Allah  menyampaikan, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-Baqarah [2] : 127).
Menganggap Kecil Amal Ibadah dan Tidak Terpedaya Olehnya
Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Al-Mudatstsir [74] : 1-6). Salah satu penyakit yang seringkali menghinggapi kita selepas mengerjakan amal ibadah adalah anggapan bahwa seakan-akan kita telah sukses mengerjakan amal ibadah yang besar dengan harapan ingin mendapatkan imbalan yang lebih besar lagi.
Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Mawardi menyampaikan, “Ada lima makna yang terkandung dalam ayat ini; Pertama, janganlah engkau memberi lalu berharap mendapatkan ganti yang lebih banyak darinya. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Qatadah. Kedua, maknanya janganlah berharap-harap mendapatkan pahala yang banyak dari Allah atas amal ibadahmu. Pendapat ini disampaikan oleh Hasan Al-Bashri. Ketiga, jangan berharap balasan dari manusia atas kenabian yang diberikan kepada Muhammad. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Zaid. Keempat, jangan melipatgandakan amalan hanya lantaran ingin mendapatkan balasan yang lebih banyak. Pendapat ini diungkapkan oleh Mujahid. Kelima,  jangan melakukan amal ibadah agar dilihat manusia.”
Memperbanyak Taubat dan Istighfar
Betapa pun kita telah berusaha menyempurnakan amal ibadah, tentu masih ada kekurangan dan cacatnya. Oleh karenanya, Allah memeintahkan kita untuk memperbanyak istighfar selepas kita mengerjakan amal ibadah. Sebagaimana yang telah Allah sampaikan dalam firman-Nya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr [110] : 1-3).
Sebagai seorang Nabi dan utusan Allah, Rasulullah SAW telah dijamin terjaga dari segala bentuk dosa, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Meski demikian, beliau tetap istiqamah dalam bertaubat kepada Allah SWT atas segala bentuk dosa. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, dalam sehari beliau beristighfar dan bertaubat kepada Allah sebanyak seratus kali. Sungguh, angka yang tidak sedikit. Dari Abu Hurairah RA, ia bertutur, “Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, sunggug aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari leih dari seratus kali.” (Riwayat Bukhari).
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bilangan seratus dalam Hadits di atas menunjukkan sesuatu yang banyak, tidak mesti harus seratus kali. Namun, bila menilik dalam sejumlah riwayat, ternyata Nabi SAW benar-benar merealisasikan seratus kali istighfar dalam sehari. Mari kita cermati dua riwayat berikut yang menggabarkan bagaimana Rasulullah SAW beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT.
Pertama, Nasai meriwayatkan dengan sanad jayyid dari jalur Mujahid dari Ibnu Umar, bahwasanya ia mendengar Nabi SAW mengucapkan : Astaghfirullahalladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih, dalam satu majelis sebanyak seratus kali sebelum beliau bangkit.
Kedua, dari riwayat Muhammad bin Sauqah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dengan redaksi, “Dalam satu majelis, kami menghitung bacaan Rasulullah : Rabbighfir li wa tub ‘alaiya innaka antat tauwabul ghafur, sebanyak seratus kali.”
Hikmah yang dapat kita petik dari teladan Rasulullah SAW tersebut adalah bahwa manusia sangat rentan untuk melakukan dosa dan maksiat, baik yang berhubungan dengan hak Allah SWT maupun berkaitan dengan hak sesama; baik dosa kecil maupun dosa besar; baik dosa yang terang-terangan maupun tersembunyi. Seandainya kita hitung dosa dan kesalahan kita sehari semalam, barangkali akan melebihi angka seratus di atas.
Seratus kali bertaubat dalam sehari merupakan batas minimal kita manakala kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh dengan dosa dan kekhilafan. Inilah karakter pribadi yang menyadari kekurangannya dan berusaha mempebaiki diri agar lembaran hidupnya menjadi lebih baik dan enak ‘dibaca’. Yang pada akhirnya, kelak akan mendapat ridha dan ampunan dari Allah SWT. Wallahu a'lam bish shawab. (Abu Hudzaifah, Lcpenulis buku-buku Islam)
Rep: 
Anonymous
Editor: Cholis Akbar

sumber : dISINI

0 komentar:

Posting Komentar